Senin, 19 September 2011

Cara Transfer Pulsa

http://www.tendollarclick.com/index.php?ref=wiwinwijaya


Cara Transfer Pulsa Beberapa Operator

*IM3
ketik Transferpulsa<spasi>no.tujuan<spasi>nominal pulsa dan kirim ke 151.
=>(Contoh TP 08567887748 10000).
Bisa juga dilakukan via menu UMB dengan ketik *123#.

*As
*858*nomor tujuan*nominal transfer# lalu tekan OK/YES 
=>Contoh untuk pengiriman nominal Rp. 10.000 ke nomor 085217848484,
ketik *858*085217848484*10# tekan OK/YES 

*Simpati
Ketik: *858*nomor tujuan*nilai transfer# tekan OK atau Call
=>Contoh untuk pengiriman nominal Rp. 10 ribu :
*858*081310300027*10# tekan ok atau call

*XL
ketik: BAGI [spasi] nomor XL yang dituju [spasi] nominal
kirim ke 168
=>Contoh: BAGI 081700000 1500
    kemudian dikirim ke 168


*Three (3)
TRANSFER NOMINAL NOMOR_TUJUAN kirim ke 123
=> Contoh: TRANSFER 3000 08988291512 kirim ke 123


*Axis
*886* jumlah*nomor tujuan# tekan ok atau call
=>contoh : *886*5000*08388000838# tekan ok atau call

*Smart
kirim pulsa ke sesama smart, ketik KIRIM(titik)no tujuan(titik)jumlah pulsa
kirim ke 879 (100/sms).

 *Flexi
ketik TR [nomor tujuan][nominal][pin] kirim ke 858.
=>contoh : TR 054256696xx 10 1352
( kirim ke 858 )

*Fren & Hepi
SMS ke 879 dgn format: KIRIM (titik) nomor tujuan (titik) jumlah pulsa.
=>Contoh: KIRIM.0888123456.15000

Selasa, 23 Agustus 2011

Kandungan Emas pada Air Laut.

dapatkan uang di = www.tendollarclick.com 

Pada  Perang Dunia Pertama (1914-1918), Jerman dikalahkan. Maka  segera diputuskan oleh pemerintah Jerman bahwa jalan keluar dari keadaan kemiskinan yaitu melalui kemajuan teknologi. Sebuah Lembaga Riset didirikan mengambil inisiatif di berbagai bidang penelitian, salah satu yang menarik bangsa itu survei kelautan. Tujuannya adalah
untuk mengekstrak emas terlarut dalam air laut, dan menggunakannya untuk menyelesaikan perang. Jerman  menggunakan kapal selam, untuk menentukan konsentrasi emas di berbagai lokasi, dan untuk mempelajari struktur dan mekanisme laut.
Survei,  yang dilakukan sebagian besar di Atlantik Selatan, antara
Maret, 1925 dan Juli, 1927 Hasil penelitian menunjukkan bahwa emas
dilarutkan dalam konsentrasi yang jauh lebih rendah daripada yang diharapkan: hanya 0,003 mikrogram (0.0000003 gram) per liter air laut. Biaya
mengekstraknya untuk membuat koin emas akan biaya jauh lebih besar dari nilai koin emasnya.
Oleh karena itu riset di lanjutkan, tetapi apa yang patut dicatat tentang hal itu adalah ide mengekstraksi logam dari air laut, yang tak pernah pikirkan sebelumnya.

Konsentrasi logam di laut jika bandingkan dengan jumlah sumber daya di darat sebenarnya lebih besar di lautan daripada di daratan: diantaranya  nikel, seng, emas dan perak.
Karena semakin banyak sumber daya tanah bumi dieksplorasi, sadar tidak sadar pasokan logam dari darat akan habis, lautan akan menjadi reservoir bumi terbesar untuk sumber logam.
Upaya Jerman untuk mengekstrak emas dari air laut pada 1920-an mungkin telah berakhir dengan kegagalan, tetapi kita sekarang pada
tahap dimana seluruh dunia harus mempertimbangkan kembali lautan sebagai lumbung logam yang berlimpah, tidak hanya emas, tapi mineral lainnya juga.
Pernahkan anda melihat pendulang butiran emas di pelabuhan ratu, ya, cara ini sudah lama dilakukan di Indonesia,meski hasil yang di dapat oleh para pendulang air laut ini hanya sekitar 0,2 gram perhari.
Sebenarnya lebih mudah untuk memompa air laut pada wilayah pesisir pantai , daripada pertambangan di darat dengan membor jauh ke dalam bumi .
Hasil bijih emas dari darat disempurnakan/dimurnikan dengan menggunakan temperatur yang sangat tinggi  dan sejumlah besar polusi dari limbah kimia.
Masalah seperti itu tidak akan muncul dalam
proses ekstraksi logam dari air laut, penggunaan  bahan kimia yang membahayakan tidak lagi digunakan, air laut begitu banyak tersedia.
Lalu, mengapa cara ini tidak langsung ada yang memulai? Masalahnya adalah bahwa kita belum  memiliki teknologi untuk mengekstrak emas di laut dengan konsentrasi yang rendah ini secara ekonomis dan efisien.
Teapi tidak perlu khawatir  Manusia tidak pernah lelah dalam mencari cakrawala baru, dan tentu saja salah satu mimpi besar
dimasa depan bagi para ilmuwan yaitu menemukan cara mengekstrak logam dari lautan yang efisien dan ekonomis.

Referensi: http://www.wisegeek.com/

Minggu, 21 Agustus 2011

EMAS & MINERAL LOGAM - DI DAERAH CIANJUR & SUKABUMI

 


Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Sukabumi merupakan bagian dari lajur Pegunungan Selatan Jawa Barat, yang
sangat berpotensi sebagai tempat kedudukan bahan galian mineral logam maupun non logam. Secara umum daerah ini
ditempati oleh berbagai batuan sedimen vulkanik yang berumur Tersier hingga Kuarter serta beberapa batuan terobosan
batuan beku yang menyebabkan terjadinya proses ubahan batuan hidrotermal dan termineralisasi pada beberapa
tempat.
Hasil kajian uji petik di daerah Gn.Subang Kecamatan Tanggeung, Kabupaten Cianjur memberikan petunjuk adanya
indikasi mineralisasi logam tipe epitermal (low sulfidation), berupa urat kuarsa berlapis (“banded”), berongga (“vuggy”) dan
“cockade” setebal 0,5 m dan mengandung adularia serta “native sulfur”r. Dari hasil analisis kimia unsur terhadap 7 conto
urat kuarsa/batuan termineralisasi menunjukkan nilai kandungan Au minimum141 ppb dan nilai maksimum 6220 ppb.
Hasil kajian uji petik di Kabupaten Sukabumi menunjukkan adanya petunjuk mineralisasi emas tipe epitermal di wilayah
ini yaitu di daerah bagian timur Gn.Buleud ( daerah Gn.Peti Desa Lebak Nangka) Kecamatan Cisolok dalam urat-urat
kuarsa. Berdasarkan hasil analisis kimia unsur terhadap 8 conto yang diambil dari urat-urat kuarsa dan batuan
termineralisasit, menunjukkan nilai kandungan yang cukup signifikan yaitu berkisar dari 256 ppb hingga 7580 ppb Au.
Urat-urat kuarsa tersebut berada pada batuan andesit terubah dan ditambang oleh kira-kira 70 orang penambang
dengan hasil sekitar 20 sampai 30 gr per hari. Sementara itu, di bagian timur dan tenggara desa Cileungsing ditemukan
juga indikasi mineralisasi logam emas pada batuan tuf breksi dengan hadirnya mineral-mineral bersuhu rendah seperti
stibnit dan sinabar dan didukung dengan hasil geokimia batuan dimana diperoleh kandungan Au antara 281 hingga 5870
ppb.
Hasil pengamatan lapangan di daerah WPP Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi tidak ditemukan adanya ubahan
batuan/mineralisasi logam, baik dari singkapan batuan maupun dari hasil analisis endapan sungai aktif.



1. PENDAHULUAN
Kegiatan inventarisasi dan evaluasi sumberdaya mineral meliputi 2 (dua) kabupaten yaitu Kabupaten Cianjur dan
Kabupaten Sukabumi sementara penyelidikan geologi dan eksplorasi mineral logam mencakup sebagian WPP DJGSM,
dilakukan di dua daerah yaitu di Kabupaten Cianjur bagian selatan yang bekerja sama dengan pemerintah Korea/KIGAM
dan daerah Surade, Kabupaten Sukabumi yang dilaksanakan seluruhnya oleh Direktorat Inventarirasi
Sumberdaya Mineral/Sub Direktorat Mineral Logam dimaksudkan untuk melakukan pengamatan dan penelitian guna
memperoleh data-data dan informasi penting tentang kondisi geologi dan mineralisasi logam emas di daerah
penyelidikan.
Lajur Pegunungan Selatan Jawa Barat merupakan daerah yang sangat menarik untuk dikaji kemungkinan akan
keterdapatan mineral logam mulia dan logam dasar yang secara umum ditempati oleh batuan-batuan sedimen vulkanik
”Old Andesite” berumur Tersier (Bemmelen, 1949). Formasi ini di beberapa tempat telah mengalami ubahan hidrotermal
serta termineralisasi akibat terobosan batuan yang lebih muda umurnya. dari berbagai umur yang tersebar di beberapa
tempat. Beberapa tambang emas yang berada pada formasi batuan tersebut, seperti misalnya bekas Tambang Cikotok,
Tambang Emas Gn. Pongkor dengan kandungan Au 5.3 – 28.35 gr/t, Ag 164.5 – 388.25 gr/t ; Cikidang 470,000 ton biji
mengandung kadar Au 10 gr/ton, Ag 88 gr/ton. Disamping itu, diketahui pula beberapa lokasi endapan lain yang
mempunyai potensi seperti Cibaliung (Pandeglang) dan Cikondang (daerah Sukabumi) yang diduga mempunyai
cadangan Au 9.78 gr/ton , Ag 20 gr/ton dari 993,000 ton bijih , dan Au 13 gr/ton, 3 % Zn dari 430,000 ton bijih.
2. KEADAAN GEOLOGI
Daerah kegiatan penyelidikan sebagian termasuk ke dalam lajur Pegunungan Selatan Jawa Barat. Berdasarkan Peta
Geologi Lembar Jampang dan Balekambang (Rab. Sukamto,1975,) dan Peta Geologi Lembar Leuwidamar (Sujatmiko
dan S. Santosa, 1992) sekala 1: 100.000 diterbitkan oleh P3G yang telah disederhanakan, batuan tertua di daerah ini
adalah Formasi Citirem terdiri dari aliran lava berkomposisi diabas, basalt, sienit dan spilit. Diduga satuan batuan ini berumur Kapur. 
Secara tidakselaras Formasi Citirem ditutupi oleh Komplek Melange Ciletuh, terdiri dari batuan berkomposisi basa dan
ultra basa (gabbro, peridotit dan serpentinit), sekis klorit pilit dan berbagai batuan sedimen.
Secara tidakselaras Formasi Ciletuh ditutupi oleh Formasi Jampang yang berumur Oligosen – Miosen, terdiri dari 3 (tiga)
anggota, umumnya terdiri dari breksi gunungapi berinterkalasi dengan lava, tufa breksi. Secara umum formasi ini telah
mengalami ubahan terpropilitkan akibat batuan terobosan berkomposisi andesitik dan basaltik. Dua anggota formasi
tersebut adalah Anggota Cikarang, terdiri dari tufa lapili dan tufa dari Anggota Ciseureuh terdiri dari lava berkomposisi
andesitik dan basaltik.
Formasi Jampang secara selaras ditutupi oleh Formasi Rajamandala yang terdiri konglomerat aneka bahan, greywake
dan batupasir kuarsa. Beberapa terobosan batuan beku dari berbagai umur tersebar di beberapa tempat diantaranya
adalah : Batuan diorit porfir berumur Oligosen Atas, batuan porfir Cilegok,Dasit Ciemas, Andesit hornblende berumur
Miosen Bawah, batuan Diorit kuarsa, Dasit berumur Miosen Tengah, batuan Andesit hornblenda dan Andesit Piroksen
berumur Pliosen
Di beberapa tempat akibat batuan terobosan tersebut diatas menyebabkan terjadinya ubahan batuan serta mineralisasi,
yang pada umumnya menerobos batuan-batuan gunung api.
3. HASIL PENYELIDIKAN
Dari hasil pengumpulan data sekunder bahan galian mineral yang diperoleh dari instansi terkait kedua kabupaten
tersebut dan dari hasil pengumpulan data primer selama penyelidikan serta data digital bahan galian mineral yang
dimiliki oleh Direktorat Inventarisasi Sumber daya Mineral jumlah titik lokasi potensi bahan galian mineral untuk kedua
Kabupaten tersebut adalah sebagai berikut :
Kabupaten Cianjur
Jumlah titik lokasi potensi bahan galian mineral di Kabupaten Cianjur adalah sebanyak 38 titik lokasi terdiri dari : mineral
logam 7 titik dengan perincian emas 3 titik, perak 1 titik, tembaga 1 titik dan besi 2 titik ; 31 titik lokasi mineral non
logam/industri dengan perincian Andesit 5 titik, tras 3 titik, sirtu 9 titik, pasir 1 titik, lempung 4 titik, diatomea 1 titik,
bentonit 3 titik, batugamping 1titik, oker 1 titik, marmer 1 titik, feldspar 2 titik.
Kabupaten Sukabumi
Jumlah titik lokasi potensi bahan galian mineral di Kabuapaten Sukabumi adalah sebanyak 82 titik lokasi terdiri dari :
mineral logam 29 titik dengan perincian emas 24 titik, mangan 2 titik, besi 3 titik; 53 titik lokasi mineral non logam/industri
dengan perincian : batugamping 3 titik, lempung 2 titik, marmer 4 titik, pasir kuarsa 4 titik, batuapung 2 titik, tras 1 titik,
feldspar 2 titik, zeolit 5 titik, andesit 4 titik, bentonit 4 titik, bond clay 2 titik, fosfat 2 titik, jasper 4 titik, kalsedon 8 titik,
chert/rijang 3 titik, toseki 1 titik, pasir 1 titik dan sirtu 1 titik.
Pengumpulan Data Primer/ Uji Petik Potensi Bahan Galian Logam
Uji Petik daerah Gn. Subang, Kecamatan Tanggeung dan Eksplorasi Mineral Logam Kerjasama DIM-KIGAM di Daerah
Wilayah Penugasan Pertambangan di Kabupaten Cianjur
Geologi Berdasarkan urut-urutan stratigrafinya satuan batuan yang menyusun daerah ini dari umur tua sampai muda adalah :
Endapan Talus, berumur Holosen (Kuarter). terdiri dari tufa. Diduga berasal dari batuan tufa Formasi Bentang sebagai
hasil jatuhan/longsoran dari tebing-tebing di sekitarnya.
Lava Andesit berumur Kuarter, tersingkap secara terbatas di bagian selatan daerah penyelidikan yaitu disekitar Kp.
Cipendeuy dan Kp. Puspamekar, membentuk struktur “sheeting Joint”.
Satuan Batuan Breksi Gunungapi/ Endapan yang tidak terpisahkan, berumur Plio-Plistosen disusun oleh breksi
andesit,breksi dasitik, breksi tuf, agak kompak, komponennya bersudut hingga bersudut tanggung dengan masa dasar
batupasir tufaan dan tuf lapili.
Satuan Batupasir tufaan/Formasi Koleberes, berumur Miosen Akhir terdiri dari batupasir tufaan dengan sisipan tuf,
breksi tuf batuapung dan breksi andesit. Batupasir tufaan dicirikan perlapisan yang cukup baik, berwarna abu-abu
kecoklatan, pada beberapa tempat berwarna agak kehitaman karena mengandung magnetit yang agak tinggi serta
lapisan tipis sisa-sisa organik.
Satuan Batugamping Koral berumur Miosen Akhir, terdiri dari batugamping koral, berwarna abu-abu gelap, berongga
serta agak keropos, mengandung fosil foraminifera besar, diduga merupakan lensa-lensa di dalam satuan batupasir
gampingan/Formasi Bentang.
Satuan Batulempung / Anggota Kadu pandak Formasi Bentang, berumur Miosen Akhir disusun oleh batulempung yang
bersifat pejal, abu-abu gelap, pada beberapa tempat bersifat tufan, perlapisan kurang jelas, mengandung sisipan tuf
batuapung dan tuf lapili
Satuan Batupasir gampingan Formasi Bentang berumur Miosen Akhir, terdiri dari perulangan batupasir gampingan
dengan tufa, sisipan tipis batulempung, napal dan konglomerat. Batupasir gampingan dicirikan oleh warna abu-abu agak
kekuningan, berlapis baik, umumnya menunjukkan struktur sedimen paralel laminasi serta silang siur di beberapa
tempat. Tufa terdiri dari tufa kristal, tufa lapili dan tufa batu apung. Sisipan tipis batulempungnya sering mengandung
fosil foraminifera.
Batuan Terobosan terdiri dari batuan terobosan Andesit dan Dasit. Andesit dicirikan oleh warna abu-abu gelap, tekstur
porpiritik, tampak mineral plagioklas dan mineral mafik sebagai fenokris, mengalami ubahan lemah propilitik. Batuan
Dasit tersingkap di bagian tengah di sekitar Sungai Cilumut, abu-abu gelap hingga abu-abu kehijauan, porpiritik dengan
fenokrist plagioklas serta mineral mafik. Berdasarkan ciri-ciri fisiknya diduga kedua batuan ini merupakan batuan
terobosan berumur Pliosen yang menerobos formasi batuan yang lebih tua, serta menyebabkan terjadinya ubahan
batuan dan mineralisasi didaerah ini.
  
Mineralisasi dan Ubahan
Ubahan batuan hidrotermal dan mineralisasi logam hanya ditemukan di bagian tengah di sekitar Gn.Subang yaitu pada
daerah uji petik. Ada tiga jenis ubahan batuan yang ditemukan yaitu : ubahan argilik dicirikan (kaolinit+ illit+ serisit/
paragonit ), ubahan silisik (kuarsa + kalsedon + barit + pirit) dan ubahan propilitik (klorit + epidot + karbonat + serisit). 
Mineralisasi sulfida logam ditemukan di desa Celak (meliputi bagian
baratdaya, selatan dan tenggara Gn.Subang) berupa pirit, galena, mangan oksida disertai barit di dalam urat-urat kuarsa
berstruktur “banded”, tekstur “vuggy”, “cockade structure” serta stockwork pada batuan tersilisifikasi kuat/silisik, disertai
hadirnya mineral kalsedon dan opal.
Salah satu vein kuarsa dengan kedudukan U10°T/65° dan ketebalan 0,5m yang ditemukan pada bagian baratdaya Gn.
Subang memiliki kandungan emas tertinggi yaitu 6,22 ppm. Conto-conto lain menunjukkan harga yang cukup signifikan
yaitu berkisar dari 273 ppb hingga 763 ppb Au .
Berdasarkan posisi dan tata letak, mineralisasi dan ubahan berada pada lokasi yang sama dengan kedudukan batuan
dari Formasi Bentang. Dengan demikian memberi kesan bahwa formasi ini merupakan batuan induk dari mineralisasi
logam di wilayah ini.Dijumpainya “hot spring” di bagian tenggara G. Subang yaitu di S. Cibuni merupakan manifestasi
adanya aktivitas geothermal yang masih aktif di daerah ini yang mungkin berkaitan dengan sumber panas pada
pembentukan sistem hidrotermal (epithermal - geothermal) di wilayah ini.
Uji Petik DI Kec. Cisolok/Cikakak,
Kab. Sukabumi
Geologi
Berdasarkan urut-urutan stratigrafinya satuan batuan yang menyusun daerah ini dari umur tua sampai muda adalah :
Andesit terubah/Formasi Cimapag, berumur Miosen Awal, terdiri dari batuan andesit terubah berwarna abu-abu
kemerahan sampai kehijauan, mengalami ubahan terpropilitkan, terkersikkan, terkaolinkan dan terpiritkan disertai
hadirnya urat-urat kuarsa mengandung mineral-mineral sulfida seperti yang tersingkap di bagian hulu S.Cimaja ( Daerah
Gn. Buleud ).
Satuan Batugamping/Formasi Cimapag, berumur Miosen Awal terdiri dari batugamping terumbu, berwarna abu-abu
hingga putih kotor, mengandung fosil foram dan koral.
Satuan Batuan Tufa Breksi/Formasi Citorek berumur Pliosen, dicirikan oleh warna abu-abu putih kekuningan hingga
kehijauan, berbutir halus sampai sedang, umumnya telah mengalami ubahan terpropilitkan dan terkersikkan pada
beberapa tempat tampak terbreksikan disertai urat kuarsa tipis berarah U 150° T dengan kemiringan 70° mengandung
mineral stibnit dan sulfida logam.
Satuan Batuan Breksi Vulkanik/Breksi Tapos berumur Kuarter, dicirikan oleh warna abu-abu gelap, terdiri dari breksi
andesit dan basal, masa dasar tuf dan abu gunung api, tidak mengalami ubahan.
Batuan terobosan terdiri dari batuan terobosan Andesit dan batuan terobosan Dasit. Batuan terobosan andesit
ditemukan di bagian utara (sekitar Gn. Buleud) dan di bagian selatan daerah uji petik menerobos satuan batuan andesit
terubah dan satuan batuan tufa breksi. Dicirikan oleh warna abu-abu kehijauan, tekstur porfiritik dengan fenokrist
piroksen dan amfibol Diduga batuan ini merupakan pembawa mineralisasi logam di daerah ini. Batuan terobosan dasit
ditemukan di bagian baratdaya daerah uji petik, dicirikan oleh warna abu-abu, tekstur porfiritik, membentuk perbukitan
yang agak menonjol dengan daerah sekelilingnya.
Mineralisasi dan Ubahan
Bagian Utara-Timur Gn. Buleud (Daerah Gn. Peti dan Desa Lebak Nangka)
Ubahan batuan yang terjadi di daerah ini terdiri tiga kelompok ubahan batuan yaitu ubahan argilik, ubahan propilitik dan
silisik/terkersikkan. Mineralisasi sulfida logam pada umumya ditemukan di dalam urat-urat kuarsa antara lain adalah pirit
dan kalkopirit. Dari sejumlah singkapan yang teramati di S. Cinangka kedudukan urat-urat kuarsa umumnya berarah
hampir utara-selatan dengan kemiringan 60o, lebar urat mencapai 25 cm dengan kerapatan/spasi (kurang dari satu
meter). Hasil analisis kimia 8 conto batuan/urat-urat kuarsa menunjukkan kandungan emas berkisar 256- 462 ppb Au.
Kandungan emas tertinggi mennjukkan nilai 7,580 ppm Au.
Keterdapatan mineral sulfida logam tersebut sangat berkaitan erat dengan keterdapatan logam emas. Hal ini terlihat
dari banyaknya kegiatan penambangan emas secara tradisional yang dilakukan oleh setidaknya 70 orang penambang
yang berasal dari desa-desa sekitar G. Peti. Penambangan yang dilakukan penduduk setempat di sekitar G. Peti
merupakan zona alterasi kaolinisasi dan piritisasi pada batuan andesitik dari Formasi Cimapag. Sementara
penambangan di daerah Desa Lebak Nangka dilakukan pada zona alterasi propilitik/kloritisasi pada batuan serupa.
Bagian Timur dan Tenggara Desa Cileungsing
Mineralisasi yang menarik di bagian timur dan tenggara daerah uji petik (sekitar Desa Cileungsing) adalah munculnya
mineral-mineral yang biasanya terbentuk pada suhu rendah dan dangkal seperti stibnit dan sinabar. Ubahan
silisifikasi/silisik dengan penampakan kalsedon bersama dengan pirit dijumpai pada tufa breksi di S. Sukawayana dalam
lubang bekas penggalian penduduk setempat. Ke arah timur daerah uji petik (S. Cipinang dan S. Cilarangan) pada
umumnya merupakan zona alterasi klorit dan kaolin yang menyebar secara luas hingga ke arah tenggara, yang juga
teramati di punggungan-punggungan.
Berbeda dengan bagian utara, di bagian timur, tenggara dan selatan daerah uji petik tidak dijumpai kegiatan
penambangan emas akan tetapi teramati adanya bekas-bekas lubang penggalian yang menyebar cukup banyak
jumlahnya di bagian timur dan tenggara di sekitar Desa Cileungsiing di sepanjang daerah aliran S. Sukawayana, S.
Cipinang dan S. Cilarangan Bekas penggalian tersebut pada umumnya ditemukan di dalam batuan terubah/tersilisifikasi
disertai hadirnya silika kriptokistalin (kalsedon) tanpa urat-urat kuarsa.
  
Berdasarkan karakteristik dan kondisi mineralisasi/alterasi di wilayah uji petik ini kemungkinan tipe endapan emas
sebagaimana diuraikan berikut ini:
Adanya mineral-mineral stibnit dan sinabar di bagian selatan daerah uji petik yang terdapat dalam zona alterasi silisik
memberi petunjuk kemungkinan adanya emas tipe epitermal dimana bagian penudung (“cap rock”) berada di sekitar
wilayah ini. Dijumpainya manifestasi aktivitas geotermal berupa “hot spring” di daerah Cisolok merupakan indikasi adanya
kemungkinan pengendapan emas tipe epitermal-geotermal di daerah ini. Namun demikian belum diketahui apakah
aktivitas ini terkait langsung dengan sumber panas dalam sistem hidrotermal pengendapan emas di wilayah ini.
Dari uraian diatas untuk sementara ini dapat ditafsirkan bahwa tipe pembentukan emas di wilayah uji petik ini adalah
epitermal. Seperti halnya di daerah uji petik Kab. Cianjur tipe/model mineralisasi emas di wilayah ini merupakan jenis
”near-neutral geothermal system” atau “low sulfidation” berupa “stockwork” kuarsa. Zona pendidihan secara pasti tidak
diketahui akan tetapi dapat diduga berada di bagian utara pada zona ubahan argilik.
Eksplorasi Mineral Logam di Wilayah WPP Kec. Surade Kab. Sukabumi
Berdasarkan pengelompokan litostratigrafi, batuan di daerah penyelidikan tersebut termasuk dalam beberapa formasi, yang akan diuraikan berikut ini.
Formasi Cikarang yang didominasi oleh batuan tufa yang mempunyai kedudukan jurus U 10° T dengan kemiringan 85°
miring kearah timur ditemukan di S. Cikarang.
Formasi Jampang yang didominasi oleh batuan tufa lapilli yang tersingkap berupa celah/ jendela di S. Cikaso dan S.
Ciseureuh. Batuan tersebut diatas mempunyai umur Oligosen Atas hingga Miosen Bawah.
Formasi Bentang bagian bawah yang didominasi oleh batupasir gampingan selang-seling tufa pasiran bersisipan batuan
lempung yang mempunyai kedudukan U 60° T dengan kemiringan 5° ke arah selatan. Formasi ini berumur Miosen Tengah
hingga Miosen Akhir dan tersingkap di S Cibuni Formasi Bentang bagian atas yang didominasi oleh batuan tufa pasiran
dengan kedudukan U 70° T dengan kemiringan 5° ke arah tenggara yang berumur Miosen Atas hingga Pliosen.
Formasi Cibodas yang didominasi oleh batugamping dengan kedudukan U 60° T dengan kemiring 5° ke arah tenggara
berumur Miosen Akhir hingga Pliosen.
Endapan sungai dan pantai yaitu berupa pasir lepas dan lempung yang mempunyai umur Kuarter, tersingkap di muara
Sungai Cikaso.
Mineralisasi dan Ubahan
Dari hasil pengamatan lapangan di daerah ini ubahan batuan dan mineralisasi logam tidak ditemukan sama sekali. Oleh
karena itu pemercontoan batuan untuk uji laboratorium tidak dilakukan sama sekali di daerah ini.
Dari hasil pemercontoan sebanyak 26 sari dulang yang dilakukan di daerah ini mineral yang teridentifikasi pada
umumnya hanya terdiri dari mineral oksida dan hidroksida. Magnetit dan Ilmenit merupakan mineral oksida logam yang
paling umum ditemukan disetiap sari dulang dengan presentase berat yang cukup melimpah.
Sementara itu mineral sulfida logam yang teramati hanya mineral Argentit (Ag2 S) berupa jejak pada satu titik lokasi.
Dari hasil 26 endapan sedimen sungai aktif yang dianalisis menunjukkan nilai anomali unsur Au hanya sebesar 6,04
ppb, terlalu kecil bila dibandingkan dengan nilai latarbelakang Au sebesar 5 ppb.
4. KESIMPULAN
Dari hasil evaluasi data sekunder jumlah titik lokasi keterdapatan bahan galian logam dan non logam pada wilayah
kedua kabupaten ini adalah sebagai berikut:
Kabupaten Cianjur
a. Mineral Logam : 7 titik.
b. Mineral Non Logam : 31 titik
Kabupaten Sukabumi
a. Mineral Logam : 29 titik
b. Mineral Non Logam : 53 titik
Untuk Kabupaten Cianjur, laporan produksi hingga tahun 2002 hanya diperoleh untuk bahan bangunan seperti
andesit/basalt, sirtu dan pasir. Cadangan hipotetik mineral non logam yang cukup besar namun belum dimanfaatkan
secara optimal diantaranya adalah tras sebesar 21.000.000 M3.
Banyak komoditi non logam di Kabupaten Cianjur yang sudah diketahui keterdapatannya namun belum diketahui jumlah
potensi maupun mutu serta pemanfaatannya seperti bentonit, oker, diatome dan batugamping. Lempung merupakan
komoditi yang paling banyak dimanfaatkan untuk pembuatan bata merah dan genteng. Potensi sumberdaya logam besi
yang cukup besar di kedua kabupaten ini belum dimanfaatkan secara maksimal, terutama sekali didalam industri semen.
Untuk Kabupaten Sukabumi, mineral logam yang diketahui diantaranya dari jenis komoditi besi, mangan dan emas,
namun belum diperoleh data mengenai cadangan, kualitas/ kadar dan utilitasnya. Sementara mineral non logam yang
diketahui baru sebagian kecil yang sudah/atau sedang ditambang (dimanfaatkan), sebagian besar baru diketahui
cadangan hipotetiknya. Diantara cadangan hipotetik yang cukup besar adalah: bond clay (12.514.680 ton), pasir kuarsa
(4.183.918 ton), fosfat (40.000 ton), batugamping (17.000.000 ton), batuapung (3.500.000 ton), tras (9.345.000 ton) dan
andesit (806.420 ton).
Hasil kajian uji petik di daerah Gn. Subang Kecamatan Tanggeung, Kabupaten Cianjur memberikan petunjuk adanya
indikasi mineralisasi logam tipe epitermal (low sulfidation), berupa urat kuarsa dengan kandungan nilai tertinggi 6,22 ppm
Au serta beberapa diantaranya menunjukkan harga yang cukup signufikan berkisar 273 ppb-763 ppb. Tidak dijumpai
indikasi mineralisasi logam di lokasi lain di wilayah WPP DJGSM (daerah kerjasama DIM-KIGAM) selain yang sudah
ditemukan di bagian selatan Gn. Subang, Kecamatan Tanggeung yaitu pada daerah
tumpang tindih ('overlapping') antara wilayah uji petik dengan daerah kerjasama DIM-KIGAM.
Hasil kajian uji petik di Kabupaten Sukabumi menunjukkan adanya petunjuk mineralisasi emas tipe epitermal yaitu di
daerah bagian timur Gn.Buleud (daerah Gn.Peti Desa Lebak Nangka) Kecamatan Cisolok berupa urat-urat kuarsa di
  
dalam batuan andesit terubah dengan nilai kandungan 256 ppb hingga 7580 ppb Au dan ditambang oleh kira-kira 70
orang penambang dengan hasil sekitar 20 sampai 30 gr per hari. Hal ini juga didukung hasil geokimia endapan sungai
aktif yang menunjukkan adanya nilai kandungan unsur Au yang jauh diatas nilai latarbelakang (496-7402 ppb).
Sementara itu, di bagian timur dan tenggara desa Cileungsing ditemukan juga indikasi mineralisasi logam emas pada
batuan tuf breksi dengan hadirnya mineral-mineral bersuhu rendah seperti stibnit dan sinabar dan didukung dengan hasil
geokimia batuan dimana diperoleh kandungan Au antara 281 hingga 7580 ppb.
Tidak ditemukan adanya indikasi mine-ralisasi logam di wilayah Penugasan Pertambangan DJGSM Kecamatan Surade
Kabupaten Sukabumi.

Sumber: Pusat Sumber Daya Geologi (PMG) - EDSM

DAFTAR PUSTAKA
Basuki, A., Sumanagara, D.A dan Sinambela D., 1993 ; The Gunung Pongkor gold-silver deposit, West Java, Indonesia,
dalam Journal of Geochemical Exploration, vol 50 – NOS 1-3, March 1994, hal 371 – 391
Koesmono, M. dkk, 1996; Peta Geologi lembar Sindangbarang dan Bandarwaru, Jawa, skala 1: 100.000, Pusat
Penelitian dan Pengembangan Geologi
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, 2000; SK No. 145K / 10 / MEM / 2000 tentang Pedoman Teknis
Penyelenggaraan Tugas Pemerintahan Di Bidang Inventarisasi Sumber Daya Mineral dan Energi
Pemerintah Kabupaten Cianjur, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, September 1999; Analisis Potensi
Pertambangan Di Kabuapten DT.II Cianjur, Tahun Anggaran 1999/2000
Rose, A W. Dkk, 1991; Geochemistry in Mineral Exploration, second edition, Academic Press Inc, San Diego.
Sutisna, D.T. dkk 1991; Eksplorasi Logam Mulia di daerah Jampang (Kabupaten Sukabumi - Cianjur) dan Bayah
(Kabupaten Lebak), Jawa Barat, Kolokium 1991, Hasil Penyelidikan Sumberdaya Mineral Indonesia, Bandung 27 – 28
Nopember 1991, Direktorat Sumberdaya Mineral.
Sukamto, Rab. 1975; Peta Geologi Lembar Jampang dan Balekambang, Jawa, skala 1:100.000, Pusat Penelitian dan
Pengembangan Geologi.
Sujatmiko dan Santosa.S, 1992 ; Peta Geologi Lembar Leuwidamar, Jawa, skala 1: 100.000, Pusat Penelitian dan
Pengembangan Geologi.
Tushadi Madiadipoera, dkk, 1990 ; Bahan Galian Industri Di Indonesia, Publikasi khusus No.36 ISSN :0216-0765,
Direktorat Sumber daya Mineral, Direktorat Jendral Geologi Dan Sumberdaya Mineral, Departemen Pertam-bangan Dan
Energi Republik Indonesia



  

Dimanakah Emas

Terbentuknya Emas

Untuk mengerti dimana dan bagaimana cara mendapatkan Emas, perlu kita mempelajari bagaimana dan dimana Emas Mentah terbentuk. 


Mineral emas yang terdapat di alam, umumnya dalam bentuk asli logam tunggal (native gold) akan tetapi ada yang bersenyawa dengan logam lain seperti sylvanite (AgAuTe4 ) dan Kalvalerit (AuTe2) . Biji emas sering diketemukan pada batuan beku asam, beku intermediate, beku basa seperti (granite, syenit, diorite) dan batuan sedimen.
Pada batuan beku, emas sebagian besar terbentuk karena proses Hydrothermal dan proses meta somatik. Proses hydrothermal menghasilkan endapan emas penggantian (replacement) dan pengisian rongga (cavity filling) yang berbentuk urat mendatar (lode), urat tegak (vein) dan breksi.
Keterdapatan mineral emas pada batuan sering bergabung dengan mineral kwarsa (SiO2), pyrite (FeS2), pasir besi (Fe2TiO3) dan mineral sulfida  lainnya.
Secara umum keterdapatan endapan emas dibagi menjadi 2 (dua), yaitu :
1) Endapan primer
* urat kwarsa (SiO2) mengandung emas pada formasi sabak sebelum
tersier seperti di Cikotok;
* urat tersier muda andesit, trachit dan rheolit;
* endapan kontak metamorfosa yang berhubungan dengan sulfide pyrite, chalcopyrite galena dan sphalerit.
2) Endapan sekunder
• endapan alluvial pleistosin pada lapisan – lapisan sungai tua ditutupi  oleh
aglomerat dan tufa ;
* endapan alluvial yang berasal dari urat-urat kwarsa mengandung emas lebih tua tetapi berasal dari urat-urat tersier.
Bentuk dan besar butiran emas yang terdapat di alam berbeda-beda dengan ukuran relatif jarang didapat diatas 0,01 mm. Pada pusat permukaannya, emas mempunyai struktur kristal kubus, berwarna kuning cerah dan sangat berat dengan spesific gravity (berat jenis) 19,26. Meleleh/ melebur pada temperature 1063oC dan mendidih pada temperature 2950oC. Emas mempunyai kekerasan yang lebih keras dari tembaga (copper) dengan  (kekerasan Brinell pada 45) dan dapat meregang serta mudah dibentuk, digulung menjadi perada (emas keroncong) atau bentuk lembaran dengan ketebalan kurang dari 1µ.
Perbandingan perada yang diperoleh dari beberapa logam sebagai berikut :
- Logam : Au Ag Al Pt Cu
- Ketebalan perada (µ) : 0,08 0,2 0,2 0,25 0,34
Hantaran panas dari emas sebesar 25% lebih rendah dari tembaga. Bentuk senyawa emas ada dua jenis dengan valensi 1 dan 3. Dikenal senyawa emas valensi 2 tetapi tidak stabil. Ion Au 3+ berwarna kuning memiliki sifat pengoksidasi yang kuat. Emas tidak larut dalam  asam ,kuat panas sampai potensial elektroda yg tinggi.


Placer. 
placer adalah akumulasi mineral berharga yang dibentuk oleh pemisahan gravitasi selama proses sedimentasi.
 
hampir semua *placer baik mentah atau murni, berasal dari erosi pada endapan batuan keras primer. 
beberapa placer terkonsentrasi ulang pada placer tua, tetapi paling sedikit beberapa waktu lalu, itu terbentuk dari batuan keras primer.
Sedikt jumlahnya yg berasal dari proses penumpukan sekunder,tetapi mayoritas tumbuh sebagai batuan keras primer dari sirkulasi larutan air panas pada tekanan - ini sering disebut endapan batuan keras.

Sangat sukar membayangkan sesuatu seperti emas atau kuarsa larut dalam air, tetapi jika suhu & tekanan air cukup tinggi, dan memiliki kadar asam (seperti sulfur, etc), emas , quartz dsb akan melarut.

larutan berpindah oleh proses alam,  Hidrotermal (air panas alam yang sedikit asam) sangat mudah melepas dan mengikat ion logam. Begitu juga di alam, airpanas (atau istilah kerennya hidrotermal) sangat mudah memecah mineral menjadi ion-ion, misalnya ion K+, Na+, Ca2+, Mg2+, atau M2+ dan melarutkannya, lalu membawanya kemana pun dia mengalir. 
Dari sini dapat kita lihat, larutan hidrothermal sangat mudah mengangkut
logam, baik logam mulia maupun logam-logam yang lainnya. Jenis logam yang
dapat diangkut atau dilarutkan sangat tergantung kepada suhu, tekanan, dan
kehadiran senyawa kompleks tertentu di dalam larutan. Hampir sama dengan
mandi atau mencuci, ditergen atau sabun mandi dapat mempercepat reaksi
antara kotoran yang akan dilepas dengan air. Dari sudut kimia tambahan
senyawa ini disebut dengan istilah ligand.
Dalam larutan hidrotermal, ligand berfungsi untuk mempercepat reaksi
pengikatan logam oleh larutan pengangkutnya. Larutan yang kaya akan klor dan
umumnya mempunyai suhu yang relatif tinggi sangat mudah membentuk senyawa
klorida kompleks di dalam larutan. Senyawa klorida kompleks sangat mudah
mengangkut logam dasar, seperti tembaga (Cu), timbal (Pb), seng (Zn) atau
PGE (platinum group elements) ataupun emas (Au). Pada suhu relatif rendah
dan dalam suasana mendekati netral (sedikit asam), senyawa komplek sulfida
atau tiosulfat (kalau asam) mendominasi ligan dalam larutan hidrotermal.
Ligand jenis ini sangat mudah mengangkut logam-logam mulia, seperti emas,
perak dan platina pada suhu rendah. Di lihat dari sifatnya yang sangat
korosif bagi yang dilaluinya, maka seandainya larutan ini melewati suatu
batuan, batuan ini akan mengalami pelarutan atau ubahan, yang dikenal dengan
istilah ubahan hidrotermal. Ubahan hidrotermal ini dapat digunakan untuk
mencari jejak larinya larutan hidrotermal, karena seperti dijelaskan di
atas, larutan ini membawa logam-logam berharga yang sewaktu-waktu dapat
mengendap. Sebagai seorang pemburu logam, jejak inilah yang mesti
diperhatikan. 








----------------------------------------------------------

Pengolahan

Cara pengolahan biji emas dapat dilakukan dengan metoda konsentrasi
gravitasi, fertasi, flotasi, amalgamasi, sianidasi, “carbon in pulp” atau
kombinasi.

1) Pengolahan biji emas primer
Pengolahan biji emas primer dilakukan dengan cara pemecahan,
penggilingan, konsentrasi dan ekstraksi. Pemecahan dilakukan dengan alat
jaw crusher sedangkan penggilingan dengan rod mill. Hasil penggilingan
kemudian dipisah untuk mendapatkan konsentrat emas dengan alat
konsentrasi seperti jig, meja goyang, sluice box dan dulang. Untuk
mengambil emas (Au) dari konsentrat dilakukan dengan metoda flovasi yaitu
pemisahan berdasarkan perbedaan affinitas, bergabungnya biji dengan air
dan udara dengan penambahan unsur-unsur pembantu.
Proses pemisahan dengan amalgamasi yaitu lumpur yang mengandung
emas dilewatkan pada plat logam yang telah dilapisi oleh air raksa (Hg)
sehingga logam emas akan bereaksi dengan air raksa membentuk amalgam.
Untuk memisahkan emas dan perak dalam bentuk amalgam dilakukan
dengan proses retorting dan kondensasi dengan pemanasan ± 400oC,
dimana hasil akhir berupa paduan emas dan perak.
Proses pemisahan dengan sianidasi adalah proses melarutkan biji emas ke
dalam larutan asam sianida lemah (leaching), kemudian kedalam larutan
ditambahkan serbuk seng (Zn), hingga logam emas mengendap, selanjutnya
untuk memisahkan endapan emas dari larutan dipakai saringan tekan.
Metode “carbon in Pulp” adalah cara dimana biji emas dalam bentuk lumpur
(pulp) dilarutkan dalam asam sianida, kemudian ditambah partikel karbon
yang akan mengikat ion emas dan mengangkatnya ke permukaan. Emas
yang diperoleh dengan metode ini antara 92 – 97%.

2) Pengolahan biji emas sekunder
Pengolahan biji emas sekunder dilakukan dengan metode konsentrasi
gravitasi, yaitu dengan cara perbedaan berat jenis dengan ditambah alat
pengayak (trammel) dengan ukuran 0,5 cm.